next up previous
次へ: Sorotan terhadap Beberapa Aspek 上へ: myikhlas 戻る: Pendahuluan

Urgensi Keikhlasan

Dalam salah satu hadith disebutkan bahwa amal ibadah sesorang bergantung pada niatnya. Ibadah seseorang yang tidak ikhlas, meskipun secara relatif dapat berfaedah duniawi, tidak akan memperoleh balasan di hari akhir kecuali balasan yang sia-sia. Hanya amal ibadah yang didasari oleh niat yang ikhlas yang kelak memperoleh imbalan pahala dari sisi Allah. Sebaliknya, Allah dapat saja mengganjar seseorang dengan siksa api neraka sebagaimana dalam hadits berikut:

Hadith tentang Syuhada, Ulama dengan bacaan Quran yang sangat fasih dan dermawan.

Rasulullah SAW bersabda: Seorang Syuhada dihadapkan pada pengadilan Hari Akhir, lalu Allah SWT menjadikannya bercerita tentang kenikmatan hidup yang diperolehnya. Kemudian Allah SWT menanyainya, "Apa yang engkau lakukan untuk mensyukurinya?" Orang tersebut menjawab, "Saya berjuang demi Engkau hingga saya mati sebagai syuhada." Allah berfirman, "Engkau berbohong. Sesungguhnya engkau berjuang bukan demi Aku, tetapi agar orang-orang menyebutmu pahlawan, dan orang-orang memang telah menyebutmu demikian." Lalu orang tersebut dikirim ke neraka...dst.

It has been narrated on the authority of Sulaiman b. Yasar who said: People dispersed from around Abu Huraira, and Natil, who was from the Syrians. said to him: O Shaikh, relate (to us) a tradition you have heard from the Messenger of Allah (may peace be upon him). He said: Yes. I heard the Messenger of Allah (may peace be upon him) say: The first of men (whose case) will be decided on the Day of Judgment will be a man who died as a martyr. He shall be brought (before the Judgment Seat). Allah will make him recount His blessings (i. e. the blessings which He had bestowed upon him) and he will recount them (and admit having enjoyed them in his life). (Then) will Allah say: What did you do (to requite these blessings)? He will say: I fought for Thee until I died as a martyr. Allah will say: You have told a lie. You fought that you might be called a" brave warrior". And you were called so. (Then) orders will be passed against him and he will be dragged with his face downward and cast into Hell. Then will be brought forward a man who acquired knowledge and imparted it (to others) and recited the Qur'an. He will be brought And Allah will make him recount His blessings and he will recount them (and admit having enjoyed them in his lifetime). Then will Allah ask: What did you do (to requite these blessings)? He will say: I acquired knowledge and disseminated it and recited the Qur'an seeking Thy pleasure. Allah will say: You have told a lie. You acquired knowledge so that you might be called" a scholar," and you recited the Qur'an so that it might be said:" He is a Qari" and such has been said. Then orders will be passed against him and he shall be dragged with his face downward and cast into the Fire. Then will be brought a man whom Allah had made abundantly rich and had granted every kind of wealth. He will be brought and Allah will make him recount His blessings and he will recount them and (admit having enjoyed them in his lifetime). Allah will (then) ask: What have you done (to requite these blessings)? He will say: I spent money in every cause in which Thou wished that it should be spent. Allah will say: You are lying. You did (so) that it might be said about (You):" He is a generous fellow" and so it was said. Then will Allah pass orders and he will be dragged with his face downward and thrown into Hell.

Ini menggambarkan betapa sulitnya mencapai derajat ikhlas. Hanya Allah SWT dan orang yang bersangkutan yang dapat mengetahui kadar keikhlasan.

Salah seorang sahabat Nabi mengibaratkan keikhlasan laksana melangkah di atas jalan penuh duri. Diperlukan kehati-hatian yang terus-menerus agar seseorang dapat menghindarkan diri dari duri. Kelupaan meskipun sejenak menyebabkan orang menginjak duri. Duri yang dimaksud dapat berupa penyakit-penyakit hati, seperti riya, sombong atau dengki. Karena itu, kita senantiasa harus berlindung kepada Allah agar terhindar dari penyakit-penyakit hati. Demikian pentingnya meminta perlindungan kepada Allah, sehingga membaca Alquran pun harus dimulai dengan taawudh.

Firman Allah "Dan orang-orang yang telah berbuat jahat, sekiranya mereka memiliki harta seisi dunia, maka tentulah mereka hendak menawarkannya demi terbebas dari siksa, dan kelak akan dijelaskan oleh Allah atas mereka tentang apa-apa yang mereka tak persangkakan sebelumnya. Dan perbuatan buruk yang mereka lakukan akan jelas bagi mereka, kelak mereka akan dikelilingi oleh sesuatu yang dahulu mereka perolok-olokkan. QS39:47-48.

Kisah sufistik Abdul Kadir Jaelani bermanfaat untuk disimak. Ini dikisahkan dalam buku beliau Futuhal ghaib. Sekali wakktu Beliau menghadapi kesulitan yang luar biasa dalam suatu perjalanan. Lalu iblis mencoba mengelabuinya. Dikisahkan bahwa Beliau mendengar suara yang seolah-olah dari Allah. "Hari ini kuhalalkan bagimu apa yang haram sebelumya". Yang lalu dijawab oleh Beliau "Enyahlah engkau, sesungguhnya engkau iblis yang hendak memperdaya aku. Tuhanku yang maha pemurah tak mungkin menfirmankan seperti itu". Beberapa saat hening, lalu kembali ada suara, "Engkau memang memiliki ilmu yang tinggi wahai Abdul Qadir Jailani sehingga dapat mengenaliku". Beliau kemudian menimpali "Bukan karena ilmuku yang tinggi, tetapi Allah melindungiku"


next up previous
次へ: Sorotan terhadap Beberapa Aspek 上へ: myikhlas 戻る: Pendahuluan
Tasrief Surungan 平成17年8月1日